UJI KUALITAS AIR DENGAN METODE MPN
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Air
mempunyai peranan penting bagi kehidupan. Kualitas air ditentukan oleh berbagai
factor antara lain factor fisik, kimia dan mikrobiologi. Kualitas fisik
meliputi warna, bau, rasa dan kekeruhan, sedangkan kualitas kimia meliputi
kadar oksigen terlarut dan berbagai senyawa kimia lain seperti nitrit, nitrat,
fosfat. Kualitas mikrobiologi air ditentukan oleh jumlah total bakteri atau
total plate count (TPC) ; kandungan bakteri coliform dan Escherichia coli serta
kandungan bakteri pathogen seperti Salmonella, Shigella, dan Vibrio (Ratna,
2013).
Air
merupakan kebutuhan yang paling dibutuhkan di dalam kehidupan manusia. Air yang
ada di alam bukanlah didapat sebagai air murni, melainkan sebagai air yang
mengandung bermacam-macam zat, baik yang terlarut ataupun tersuspensi. Jenis
dan jumlah zat tersebut tergantung dari kondisi lingkungan sekitar sumbernya.
Pemeriksaan air secara mikrobiologi sangat penting dilakukan karena air
merupakan substansi yang sangat penting dalam menunjang kehidupan
mikroorganisme yang meliputi pemeriksaan secara mikrobiologi baik secara
kualitatif maupun kuantitatif dapat dipakai sebagai pengukuran derajat
pencemaran (Fardiaz, 2002).
Bakteri
koliform merupakan golongan mikroorganisme yang lazim digunakan sebagai
indikator, di mana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu
sumber air telah terkontaminasi oleh patogen atau tidak. Berdasarkan
penelitian, bakteri koliform ini menghasilkan zat etionin yang dapat
menyebabkan kanker. Selain itu, bakteri pembusuk ini juga memproduksi
bermacam-macam racun seperti indol dan skatol yang dapat menimbulkan penyakit
bila jumlahnya berlebih di dalam tubuh.Bakteri koliform dapat digunakan sebagai
indikator karena densitasnya berbanding lurus dengan tingkat pencemaran air.
Bakteri ini dapat mendeteksi patogen pada air seperti virus, protozoa, dan
parasit. Selain itu, bakteri ini juga memiliki daya tahan yang lebih tinggi
daripada patogen serta lebih mudah diisolasi dan ditumbuhkan (Adam 2001).
Berdasarkan
dari penjelasan yang telah dijelaskan sebelumnya maka praktikum ini penting
dilakukan agar mahasiswa mampu mengetahui kualitas air secara mikrobiologis
dengan menggunakan metode MPN (most probable number).
1.2 Rumusan
Masalah
a. Bagaimana mengetahui kualitas air
secara mikrobiologis dengan menggunakan metode MPN (Most Probable Number) ?
b. Bagaimana parameter yang ditunjukkan
oleh uji MPN yang menunjukkan baik atau tidak kualitas air yang di uji dalam
praktikum ini ?
1.3 Maksud dan Tujuan
a. Diharapkan mahasiswa mampu
mengetahui dan memahami kualitas air secara mikrobiologis dengan menggunakan
metode MPN (Most Proable Number).
b. Diharapkan mahasiswa mampu mengetahui
dan memahami parameter yang ditunjukkan oleh uji MPN yang menunjukkan dbaik
atau tidak kualitas air yang diuji dalam praktikum ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Air
Air
merupakan bahan esensial bagi hidupnya organisme, oleh karena itu air selalu
penuh dengan benda-benda hidup. Manusia dan makhluk-makhluk lain yang tidak
hidup di dalam air senantiasa mencari tempat-tempat tinggal dekat air supaya
mudah mengambil air untuk keperluan hidupnya, maka desa atau kota zaman dulu
tumbuh di sekitar sumber air, di tepi sungai, atau di tepi danau. Sesudah
manusia lebih maju, tempat tinggalnya tidak perlu dekat air dengan sumber jauh
yang disalurkan dengan pipa dan didistribusikan. Pentingnya air di dalam tubuh
manusia, berkisar antara 50%–70% dari seluruh total berat badan. Tulang manusia
mengandung air sebanyak 22% berat tulang, dalam darah dan ginjal sebanyak 83%.
Pentingnya air bagi kesehatan dapat dilihat dari jumlah air yang ada di dalam
organ, 80% dari darah terdiri atas air, dalam tulang mengandung 25%, sedangkan
dalam urat syaraf terdapat 75% air, dalam ginjal mengandung 80% air, dalam hati
70% air, dan otot 75% air. Kekurangan air menyebabkan penyakit batu ginjal dan
kandung kemih, karena terjadi kristalisasi unsur-unsur yang ada di dalam cairan
tubuh. Kehilangan air sebanyak 15% dari berat badan dapat mengakibatkan
kematian. Kebutuhan minum orang dewasa adalah minimum 1,5–2 liter air sehari
(Prescott, 2003).
Selain
pentingnya air bagi tubuh manusia, air dibutuhkan bagi kehidupan lainnya, baik
untuk kebutuhan hidup sehari-hari yaitu keperluan untuk kebutuhan domestik
rumah tangga maupun kebutuhan dalam pertanian, industri, perikanan, pembangkit
listrik tenaga air, dan navigasi, serta rekreasi. Air tawar bersih yang layak
minum, demikian langka di perkotaan. Sungai-sungai yang menjadi sumbernya sudah
tercemar berbagai macam limbah, mulai dari buangan sampah organik, rumah tangga
hingga limbah beracun dari industri. Air tanah sudah tidak aman dijadikan bahan
air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik maupun air
permukaan (Prescott, 2003).
Air merupakan komponen esensial bagi
kehidupan jasad hidup. Akan tetapi dapat juga merupakan suatu substansi yang
membawa malapetaka, karena air dapat membawa mikroorganisme patogen dan zat-zat
kimia yang bersifat racun .Banyaknya kontaminan dalam air memerlukan standar
tertentu untuk menjamin kebersihannya. Air yang terkontaminasi oleh bakteri
patogen saluran cerna sangat berbahaya untuk diminum. Hal ini dapat dipastikan
dengan penemuan organisme yang ada dalam tinja manusia atau hewan dan yang
tidak pernah terdapat bebas di alam. Ada beberapa organisme yang termasuk
kategori ini, yaitu bakteri Coliform (Escherichia coli), Enterococcus
faecalis,dan Clostridium. Di Indonesia, bakteri indikator air terkontaminasi
adalah Escherichia coli (Fardiaz, 2002).
2.2 Bakteri
Coliform
Bakteri
Coliform adalah jenis bakteri yang umum digunakan sebagai indikator penetuan
kualitas sanitasi makanan dan air. Coliform sendiri sebenarnya bukan penyebab
dari penyakit-penyakit bawaan air, namun bakteri jenis ini mudah untuk dikultur
dan keberadaannya dapat digunakan sebagai indikator keberadaan organisme
patogen seperti bakteri lain, virus atau protozoa yang banyak merupakan parasit
yang hidup dalam sistem pencernaan manusia serta terkandung dalam feses.
Organisme indikator digunakan karena ketika seseorang terinfeksi oleh bakteri
patogen, orang tersebut akan mengekskresi organisme indikator jutaan kali lebih
banyak dari pada organisme patogen. Hal inilah yang menjadi alasan untuk
menyimpulkan bila tingkat keberadaan organisme indikator rendah maka organisme
patogen akan jauh lebih rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Bakteri
Coliform dijadikan sebagai bakteri indikator karena tidak patogen, mudah serta
cepat dikenal dalam tes laboratorium serta dapat dikuantifikasikan, tidak
berkembang biak saat bakteri patogen tidak berkembang biak, jumlahnya dapat
dikorelasikan dengan probabilitas adanya bakteri patogen, serta dapat bertahan
lebih lama daripada bakteri patogen dalam lingkungan yang tidak menguntungkan
(Colome, 2001).
Bakteri
Coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih
tepatnya, sebenarnya, bakteri Coliform feka adalah bakteri indikator
adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan Coliform fekal menjadi indikator
pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan
keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah,
cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri
Coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, Coliform
adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan Coliform, artinya,
kualitas air semakin baik. (Friedheim, 2001). Eschericia coli, merupakan
anggota Coliform yang dapat dibedakan dari bakteri Coliform lain karena
kemampuannya memfermentasikan laktosa pada suhu 44°C (pada JPT hal ini
dilakukan pada tahap terakhir atau saat uji kelengkapan). Pengidentifikasian
dapat dilihat dari pertumbuhan dan reaksi yang memberikan warna berbeda pada
media kultur khusus. Saat dikulutur pada media EMB, hasil positif E. coli
adalah koloni berwarna hijau metalik. Tidak seperti golongan Coliform pada
umumnya, E. coli merupakan bakteri yang berasal dari feses dan kehadirannya
efektif mengkonfirmasi adanya kontaminasi fekal pada badan air. Umumnya, pada
feses, E. coli ada sebanyak 11% dariColiform (Colome, 2001).
2.3 MPN
( Most Probable Number )
Jumlah
mikroorganisme dapat dihitung melalui beberapa cara, namun secara mendasar
dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu perhitungan langsung dan tidak langsung.
Perhitungan secara langsung dapat mengetahui beberapa jumlah mikroorganisme
pada suatu bahan pada suatu saat tertentu tanpa memberikan perlakuan terlebih
dahulu, sedangkan jumlah organisme yang diketahui dari cara tidak langsung
terlebih dahulu harus memberikan perlakuan tertentu sebelum dilakukan
perhitungan. Perhitungan secara langsung, dapat dilakukan dengan beberapa cara
antara lain adalah dengan membuat preparat dari suatu bahan (preparat sederhana
diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber).
Sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah
mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viable count). Dalam
pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu, perhitungan pada cawan petri (total
plate count/TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil
atau terdekat (Metode MPN) dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri).
Metode perhitungan MPN sering digunakan dalam pengamatan untuk menghitung
jumlah bakteri yang terdapat di dalam tanah seperti Nitrosomonas
danNitrobacter. Kedua jenis bakteri ini memegang peranan penting dalam
meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehubungan dengan kemampuannya
dalam mengikat N2 dari udara dan mengubah amonium menjadi nitrat (Suriawiria,
2005).
Metode MPN
merupakan salah satu metode perhitungan secara tidak langsung. Metode MPN
terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumptive test), uji konfirmasi
(confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Dalam uji tahap
pertama, keberadaan Coliform masih dalam tingkat probabilitas rendah, masih
dalam dugaan. Uji ini mendeteksi sifat fermentatif Coliformdalam sampel
(Suriawiria, 2005).
Dalam
metode MPN, pengenceran harus dilakukan lebih tinggi daripada pengenceran dalam
hitungan cawan, sehingga beberapa tabung larutan hasil pengenceran tersebut
mengandung satu sel jasad renik. Beberapa tabung mungkin mengandung lebih dari
satu sel, sedangkan tabung lainnya tidak mengandung sel. Dengan demikian
setelah inkubasi diharapkan terjadi pertumbuhan pada beberapa tabung yang
dinyatakan sebagai tabung positif sedang tabung lainnya negatif. Metode MPN
biasanya digunakan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang
berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat
dengan melakukan pengenceran terlebih dahulu. Metode MPN merupakan uji deretan
tabung yang menyuburkan pertumbuhan Coliform sehingga diperoleh nilai untuk
menduga jumlahColiform dalam sampel yang diuji. Uji positif akan menghasilkan
angka indeks. Angka ini disesuaikan dengan tabel MPN untuk menentukan jumlah
Coliform dalam sampel (Adam, 2001).
Metode MPN
biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang
berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat
dengan terlebih dahulu membuat suspensi 1:10 dari contoh tersebut. Metode MPN
digunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungannya dilakukan
berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad renik
setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif
dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di
dalam tabung kecil (tabung durham) yang diletakkan pada posisi terbalik, yaitu
untuk jasad renik pembentuk gas. Untuk setiap pengenceran pada umumnya
digunakan tiga atau lima seri tabung. Lebih banyak tabung yang digunakan
menunjukkan ketelitian yang lebih tinggi, tetapi alat gelas yang digunakan juga
lebih banyak (Lim, 2006).
Untuk metode MPN (most probable
number) digunakan medium cair dalam wadah berupa tabung reaksi, perhitungan di
lakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu tabung yang mengalami
perubahan pada mediumnya baik itu berupa perubahan warna atau terbentuknya
gelembung gas pada dasar tabung durham. Pada metode perhitungan MPN ini
digunakan bentuk tiga seri pengenceran, yang pertama 10-1, 10-2 dan 10-3.
Kemudian dari hasil perubahan tersebut dicari nilai MPNnya pada tabel nilai
MPN, dan untuk jumlah bakterinya maka digunakan rumus (Cowan, 2004).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu
dan Tempat
3.1.1 Waktu
a.
Hari :
Jumat
b.
Tanggal :
5 Mei 2017
3.1.2 Tempat
Laboratorium Mikrobiologi STiKes Mega Rezky
Makassar
3.2 Alat
dan Bahan
3.2.1 Alat
a.
Tabung reaksi
b.
Tabung durham
c.
Rak tabung
d.
Incubator
e.
Erlenmeyer
f.
Magnetic Stirer
g.
Sendok tanduk
h.
Ose
i.
Corong
3.2.2 Bahan
a.
Sampel Pop Ice Cincau
b.
Media Lactose Broth ( LB )
c.
Media Brilliant Green Lactose Bile Broth
( BGLBB )
d.
Kapas
e.
Kertas bekas
f.
Kertas timbang
g. Aquadest
3.3 Prosedur
Kerja
3.3.1 Hari
1 ( Uji Penduga )
a.
Dibuat media Lactose Broth ( LB )
b.
Disiapkan 7 tabung reaksi dengan 5
tabung untuk LB.DS ( Double Strain ) dan 2 tabung untuk LB.SS ( Single Strain
). Adapun perhitungannya sebagai berikut ;
1.
LB.DS =
x 25 = 1 gr
Ditimbang bubuk LB
sebanyak 1 gr lalu dicampur dengan aquadest sebanyak 25 ml lalu dihomogenkan di
magnetic stirer hingga larutan jernih atau hingga bening.
2.
LB.SS =
x 10 = 0,13 gr
Ditimbang bubuk LB
sebanyak 0,13 gr lalu dicampur dengan aquadest sebanyak 10 ml lalu dihomogenkan
di magnetic stirrer hingga larutan jernih atau hingga bening.
3.
Kemudian masing-masing tabung diberi
kode 1-5 untuk media LB.DS dan kode 6 sama 7 untuk media LB.SS.
4.
Sebelum disterilkan tabung durham
dimasukkan terlebih dahulu.
5.
Lalu alat beserta media disterilkan.
6.
Dituang media yang disterilkan kedalam
masing-masing tabung reaksi sebanyak 5 ml.
7.
Dimasukkan sampel sebanyak 10 ml
ditabung LB.DS yang telah diberi kode 1-5.
8.
Pada tabung LB.SS yang telah diberi kode
6 dimasukkan sampel sebanyak 1 ml dan
kode dimasukkan sampel sebanyak 0,1 ml.
9.
Setelah itu diinkubasi selama 1x24 jam
pada suhu 37oC .
10. Kemudian
diamati gelembung dan kekeruhan yang terjadi.
3.3.2 Hari
2
a.
Dibuat media BGLBB sesuai dengan jumlah
positif pada media LB
b.
Kemudian dibuat media BGLBB dengan
perhitungan ;
1000
Ditimbang bubuk GBLBB
sebanyak 0,2 gram lalu dicampur aquadest sebanyak 5 ml. kemudian dihomogenkan
dengan magnetic stirrer. Karena yang positif cumin satu yaitu tabung dengan
kode 6.
c.
Setelah itu disediakan satu tabung
reaksi diberi kode 1
d.
Setelah itu disterilkan di autoclave
hingga suhu 121oC.
e.
Setelah steril, GBLBB dituang kedalam
tabung reaksi sebanyak 5 ml.
f.
Setelah itu didinginkan dan diletakkan
pada rak tabung.
g.
Diambil ose bulat pada sampel yang sudah
diinkubasi dalam media LB dan dimasukkan kedalam media BGLBB.
h.
Kemudian diinkubasi pada suhu 37oC
selama 1x24 jam.
i.
Diamati kekeruhan pada media BGLBB.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
4.1 Tabel
Pengamatan
a. LB.DS
|
Sampel
|
Pengamatan
Makroskopik
|
||||
|
Tabung 1
|
Tabung 2
|
Tabung 3
|
Tabung 4
|
Tabung
5
|
|
|
LB.DS
|
(-) Negatif
|
(-) Negatif
|
(-) Negatif
|
(-) Negatif
|
(-)
Negatif
|
b. LB.SS
|
Sampel
|
Pengamatan
Makroskopik
|
|
|
Tabung 6
|
Tabung
7
|
|
|
LB.SS
|
(+)
Positif
Keruh dan Gelembung
|
(-)
Negatif
|
c.
GBLBB
|
Sampel
|
Pengamatan
Makroskopik
|
|
Tabung
1
|
|
|
GBLBB
|
(+) Positif
Keruh
|
BAB
V
PEMBAHASAN
Pada
praktikum kali ini kami melakukan uji kualitas air dengan metode MPN. Tujuan
dari praktikum ini ialah Diharapkan
mahasiswa mampu mengetahui dan memahami kualitas air secara mikrobiologis
dengan menggunakan metode MPN dan parameter uji kualitas air ini baik atau
tidak. Dimana sampel yang kami gunakan ialah Pop Ice Cincau yang ada dijual
disekitar kampus kami.
Adapun metode yang kami gunakan ialah
metode MPN yang merupakan salah satu metode perhitungan secara tidak langsung
metode MPN yang terdiri dari tiga tahap yaitu uji pendugaan, uji konfirmasi dan
uji kelengkapan. Metode perhitungan MPN menggunakan media cair didalam tabung
reaksi yang berisi tabung durham, dimana perhitungan dilakukan berdasarkan
jumlah tabung yang positif. Pengamatan tabung yag positif dapat dilihat dengan
mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya suatu gas didalam tabung durham
yang diletakkan dalam posisi terbalik.
Uji pertama yang kami lakukan ialah uji
pendugaan atau uji presumptive test yang merupakan pendahuluan tentang ada
tidaknya kehadiran bakteri coliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas
disebabkan oleh fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coliform. Terbentuknya
asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa dan gas yang dihasilkan dapat
dilihat dalam tabung berupa gelembung udara.
Uji penduga merupakan uji positif untuk
menentukan bakteri coliform. Media yang digunakan ialah laktosa, bakteri dapat
menggunakan laktosa sebagai sumber karbon. Uji dinyatakan positif bila
terbentuk gas pada tabung durham karena bakteri coliform mampu memfermentasikan
laktosa dengan menghasilkan gas. Uji pendugaan dapat menunjukkan kuantitas
mikroorganisme coliform yang merupakan jumlah perkiraan terdekat (MPN).
Adapun kerugian dari metode ini adalah
dibutuhkannya banyak ulangan untuk diperoleh hasil yang teliti dan sehubungan
dengan hasil tersebut. Metode ini banyak digunakan untuk menghitung bakteri
patogenik dalam jumlah sedikit.
Pada pengamatan uji kualitas air ini
berdasarkan hasil MPN coliform dilakukan 1 tahap yaitu uji pendugaan. Kami
mengambil sampel tersebut karena ingin mengetahui apakah air yang dipakai pada
Pop Ice Cincau tersebut sesuai atau tidak kelayakannya.oleh karena itu kami
ingin memastikannya secara ilmiah.
Berdasarkan hasil percobaan yang
didapat ialah uji pendugaan didapatkan hasil positif pada tabung yang berkode 6
dengan volume 1 ml yang ditandai dengan adanya kekeruhan dan terbentuknya gas
pada tabung durham.
Pada table MPN, menurut volume hasil
yang diperoleh pada porsi 5 1 1 hasilnya
ialah 0 1 0 yaitu sejumlah MPN 2 ml/100 ml. Berdasarkan persyaratan kualitas
air secara mikrobiologi dari pedoman SNI 01-4852-1998; CAC/RCP1-1969, Rev 4
(2003). Air yang mmengandung kurang dari 1 coliform/100 ml merupakan golongan
kelas I yang berarti air tersebut sangat baik untuk dikonsumsi. Nilai coliform
1-2/100 ml digolongkan pada kelas II yang berarti air tersebut baik untuk
dikonsumsi. Sedangkan untuk air dengan jumlah coliform 3-10/ 100 ml termasuk
golongan III dan tidak baik untuk dikonsumsi. Apabila jika nilai coliform lebih
dari 10/100 ml maka air tersebut sudah tidak layak dikonsummsi. Dari hasil
diatas untuk sampel Pop Ice Cincau pada uji kualitas air termasuk dalam
kategori kelas II yang berarti sampel tersebut baik untuk dikonsumsi karena
hanya terdapat 2 coliform/100 ml. Sesuai dengan pedoman untuk kualitas air pada
Pop Ice Cincau adalah sebesar 240 sel/100 ml untuk jumlah batas maksimumnya.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pada uji kualitas air yang mana
sampel yang kami gunakan ialah Pop Ice Cincau didapatkan hasil sebesar 2
sel/100 ml yang menurut pedoman SNI termasuk dalam kategori kelas II yang
berarti air tersebut baik untuk dikonsumsi.
6.2 Saran
Diharapkan
kepada mahasiswa untuk setiap praktikum harus memiliki APD yang lengkap dalam
praktik uji baik yang bersifat patogenik maupun tidak
DAFTAR
PUSTAKA
Adam,MR.2001. Microbiology of Fermented Food
.Elsivier Applied Science Publisher,Ltd. New York.
Buchanan,RE. & Gibbons,NE.2003. Bergey’s Manual
of Determinative Bacteriology. The William & Wilkins Company
Baltimore.USA.
Burrows, W., J.M. Moulder, and R.M. Lewert. 2004. Texbook
of Microbiology. W.B. Saunders Company. Philadelphia.
Cappuccino,JG.& Sherman,N. 2000. Microbiology: A Laboratory
Manual. The Benjamin/Cummings Publishing Company,Inc. California.
Colome,JS. Et al. 2001. Laboratory Exercises in
Microbiology. West Publishing Company. New York.
Cowan,ST. 2004. Manual for the Identification of
Medical Fungi. Cambridge University Press. London.
Fardiaz,Srikandi.2002. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta
Lim,D. 2006. Microbiology. McGraw-Hill. New York.
Prescott, L.M. 2003. Microbiology. Mc Graw Hill. New
York.
Ratna, Siri .2012. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek:
Teknik dan Prosedur dasar Laboratorium. PT Gramedia,Jakarta.
Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar
Sinanti. Jakarta.

Komentar
Posting Komentar