ANEMIA DEFISIENSI ASAM FOLAT
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Anemia adalah salah satu penyakit yang sering
diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang
tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat
besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik
maupun dengan pemeriksaan laboratorium.
Secara fisik penderita tampak pucat, lemah, dan secara laboratorik didapatkan
penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah dari harga normal.
Anemia bukan suatu penyakit tertentu, tetapi
cerminan perubahan patofisiologik yang mendasar yang diuraikan melalui
anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik, dan konfirmasi laboratorium (Baldy,
2006).
B. Rumusan
Masalah
1.
Jelaskan definisi anemia defisiensi asam
folat?
2.
Jelaskan penyebab defisensi asam folat?
3.
Jelaskan sumber asam folat?
4.
Jelaskan patofisiologi defisiensi asam
folat?
5.
Jelaskan pemeriksaan defisiensi asam
folat?
C.
Tujuan
1. Diharapkan
mahasiswa mampu mengetahui definisi anemia defisiensi asam folat.
2. Diharapkan
mahasiswa mampu mengetahui penyebab defisiensi asam folat.
3. Diharapkan
mahasiswa mampu mengetahui sumber defisiensi asam folat.
4. Diharapkan
mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi defisiensi asam folat.
5. Diharapkan
mahasiswa mampu mengetahui pemeriksaan defisiensi asam folat.
BAB II
ISI
A. Definisi
Anemia defisiensi asam folat adalah
berkurangnya sel darah merah (eritrosit) atau anemia akibat kurangnya asam
folat. Anemia adalah kondisi dimana tubuh tidak memiliki sel darah merah sehat
yang cukup. Sel darah merah diperlukan untuk memasok oksigen kedalam jaringan
tubuh. Angka kejadian : 4 : 100.000. Asam folat terutama terdapat dalam
daging, susu, dan daun-daun yang hijau. Umumnya berhubungan dengan malnutrisi.
Penurunan absorpsi asam folat jarang ditemukan karena absorpsi terjadi di
seluruh saluran cerna. Juga berhubungan dengan sirosis hepatis, karena terdapat
penurunan cadangan asam folat.5
Asam folat adalah salah satu vitamin,
termasuk dalam kelompok vitamin B, merupakansalah satu unsur penting dalam
sintesis DNA (deoxyribo nucleic acid). Unsur ini diperlukan sebagai koenzim
dalam sintesis pirimidin. Kebutuhan meningkat pada saat terjadi peningkatan
pembentukan sel seperti pada kehamilan, keganasan dan bayi prematur. Anemia
megaloblastik merupakan manifestasi paling khas untuk defisiensi asam folat,
walaupun ternyata defisiensi asam folat dapat menyebabkan kelainan-kelainan
yang berat mengenai jaringan non hemopoetik. Kelainan ini bahkan sudah
bermanifestasi sebagai kelainan kongenital yaitu neural tube defect (NTD).
Defisiensi asam folat juga mengakibatkan peningkatan homosistenin plasma
(hiperhomosisteinemia) yang dianggap sebagai salah satu faktor risiko penyakit
kardiovaskular berupa aterosklerosis. Mengingat besarnya risiko akibat
defisiensi folat, FDA (Food and Drug Administration) menganjurkan fortifikasi
folat pada makanan yang banyak dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat seperti
susu, dengan upaya menurunkan angka prevalensi defisiensi folat. Defisiensi asam folat apabila kadar asam
folat di bawah normal yaitu folat serum < 3 ng/ml dan folat entrosit <
130 mg/ml.5,6
B.
Etiologi
Beberapa penyebab
defisiensi asom folat ialah sebagai berikut 1,3,5
1. Diet
yang inadekuat: bayi dan anak-anak, orangtua, pemanasan, kemiskinan.
2. Malabsorpsi:
tropical sprue, blind loop syndrome,steatorrhea, malabsorpsi folat kongenital,
reseksi jejunum, Crohn’s disease,
infeksi parasit cacing.
3. Peningkatan
kebutuhan: kehamilan, laktasi, prematuritas, anemia hemolitik, keganasan,
inflamasi kronik,
hipertiroidisme.
4. Obat-obatan:
fenitoin, primidon, fenobarbital, kontrasepsi oral, methotrexate,
sulfasalazine, triamterene, pyrimethamine, trimethoprim-sulfamethoxazole
5. Defisiensi
enzim bawaan: dihidrofolat reduktase,
6. Alkoholisme
menahun
7. Pembedahan
dengan mengangkat sebagian dari lambung atau usus kecil (pembedahan untuk menurunkan
berat badan)
C.
Asam Folat
Asam
folat merupakan senyawa induk dari sekumpulan senyawa yang secara umum disebut
folat. Senyawa ini mempunyai berat molekul (BM) 441. Molekul asam folat terdiri
dari tiga gugus yaitu pteridin, suatu cincin yang mengandung atom nitrogen,
cincin psoriasis amino-benzoic acid (PABA) dan asam glutamat.1 Tubuh
manusia tidak dapat mensintesis struktur folat, sehingga membutuhkan asupan
dari makanan.1,2 Walaupun banyak bahan makanan yang mengandung
folat, tetapi karena sifatnya termolabil dan larut dalam air, sering kali folat
dari bahan-bahan makanan tersebut rusak karena proses memasak.1,3
Defisiensi asam folat biasanya terjadi pada minggu-minggu pertama kehidupan
bayi prematur, walaupun defisiensi yang berat jarang tejadi. Kelompok yang
paling sering memperlihatkan gejala-gejala defisiensi asam folat adalah ibu
hamil dan ibu menyusui.4 Defisiensi asam folat biasanya dihubungkan
dengan anemia megaloblastik, kemungkinan adanya neural tube defect (NTD) dan
hiperhomosistemia.3 Anemia megaloblastik dilaporkan 3%-75% terjadi
pada wanita yang tidak menerima asupan asam folat.4 Di Afrika
Selatan 90% wanita melahirkan dan wanita menyusui menderita defisiensi asam
folat.4 Di Indonesia belum ada data yang pasti.
D. Sumber
Asam Folat
Folat
tersebar luas pada berbagai tumbuh-tumbuhan dan jaringan hewan, terutama
sebagai poliglutamat dalam bentuk metil atau formil tereduksi.6
Sumber-sumber yang paling kaya akan asam folat adalah ragi, hati, ginjal,
sayur-sayuran berwarna hijau, kembang kol, brokoli; dalam jumlah yang cukup
terdapat dalam makanan yang terbuat dari susu, daging dan ikan, dan sedikit
dalam buah-buahan.1,3,4,6,-8 Pemanasan dapat merusak 50-90% folat
yang terdapat dalam makanan. Asupan sebanyak 3,1 mg/kgbb/hari dapat memenuhi
angka kecukupan gizi yang dianjurkan di Indonesia. Untuk wanita hamil dan
wanita menyusui dianjurkan 0,4 mg/hari atau 400 mg /hari. 9,10 Apabila kebutuhan asam folat tercukupi, tubuh
menyimpan sekitar 5-10 mg folat, dan hampir setengahnya disimpan di hati.
Cadangan ini cukup untuk 3-6 bulan tanpa asupan folat dari makanan.
E. Metabolisme
Asam Folat
Sebagian
besar asam folat dari makanan masuk dalam bentuk poliglutamat. Absorpsi terjadi
sepanjang usus halus, terutama di duodenum dan jejunum proksimal dan 50-80% di
antaranya dibawa ke hati dan sumsum tulang. Folat diekskresi melalui empedu dan
urin. 1,3,11 Di mukosa usus halus, poliglutamat dari makanan akan
dihidrolisis oleh enzim pteroil poliglutamathidrolase menjadi monoglutamat yang
kemudian mengalami reduksi/metilasi sempurna menjadi 5 metil tetrahidrofolat
(5-metil THF).1,3,11,12 Metil THF masuk ke dalam sel dan mengalami
demetilasi dan konjugasi. Dengan bantuan enzim metil transferase, 5-metil THF
akan melepaskan gugus metilnya menjadi tetrahidrofolat (THF). Metilkobalamin
akan memberikan gugus metil tersebut kepada homo-sistein untuk membentuk asam
amino metionin.
F. Patofisiologi
Asam folat dibutuhkan dalam pembentukan unsur Thymedine dari asam
nukleat. Berkurangnya asam folat akan menyebabkan pembentukan/sistesis DNA
terhalang sehingga menghalangi pematangan inti sel. Di pihak lain, sintesis RNA
dan protein dapat berlangsung terus. Akibatnya ialah terjadinya
ketidakseimbangan dalam proses pertumbuhan eritrosit; komponen sitoplasma
(terutama Hb) disintesa dalam jumlah banyak sedang proses pemisahan/pembelahan
sel terhalang.
Anemia megaloblastik adalah suatu
keadaan yang ditandai oleh adanya perubahan abnormal dalam pembentukan sel
darah, sebagai akibat adanya ketidaksesuaian antara pematangan inti dan
sitoplasma pada seluruh sel seri myeloid dan eritorid.13 Anemia megaloblastik
merupakan manifestasi yang paling khas untuk defisiensi folat. Mekanisme
biokimiawi yang mendasari terjadinya perubahan megaloblastik menjadi konversi
defisiensi asam folat.13,15
Gambaran
darah tepi yang paling sering dihubungkan dengan anemia megaloblastik adalah
makrositosis. Makrositosis yang khas adalah makroovalositosis. Hipersegmentasi
neutrofil merupakan tanda pertama dari anemia megaloblastik di daerah tepi;
bila ditemukan 5% neutrofil dengan lobus lebih dari lima kemungkinan adanya
defisiensi asam folat meningkat menjadi 98%. 1,22 Pansitopenia dapat
juga ditemukan pada anemia megaloblastik dengan derajat yang bervariasi dan
merupakan atribut langsung dari proses hemopoesis yang inefektif dari sumsum
tulang. Sumsum tulang menunjukkan gambaran hiperselular dengan hiperplasi seri
eritroid. Prekursor eritroid tampak sangat besar yang disebut megaloblas. Pada
seri mieloid dijumpai adanya sel batang dan metamielosit yang sangat besar
(giant meta) myelocyte.
G. Manifestasi
Klinis
Gejala
dan tanda pada anemia defisiensi asam folat sama dengan anemia defisiensi
vitamin B12, yaitu anemia megaloblastik dan perubahan megaloblastik pada
mukosa, mungkin dapat ditemukan gejala-gejala neurologis, seperti gangguan
kepribadian dan hilangnya daya ingat. Tanda anemia megaloblastik berupa
glositis (lidah pucat dan licin), stomatitis angularis, diare/konstipasi,
anoreksia, ikterus ringan, sterilitas, neuropati perifer bilateral, pigmentasi
melalui pada kulit.4,5
H. Pemeriksaan
Penunjang
Gambaran
darah seperti anemia pernisiosa, tetapi kadar vitamin B12 serum normal dan asam
folat serum rendah, biasanya kurang dari 3 ng/ml. Yang dapat memastikan
diagnosis adalah kadar folat sel darah merah kurang dari 150 ng/ml.
1.
VER dan HER lebih dari normal; KHER
tetap normal
2.
Jumlah leukosit berkurang atau tetap
normal. Bila anemia lebih berat, jumlah leukosit berkurang dan bisa terjadi
netropenia absolut.
3.
Jumlah trombosit kurang dari normal,
masa perdarahan memanjang
4.
Sediaan apus darah tepi :
a. Gejala
yang penting adalah : makroovalositosis dan hipersegmentasi
b. Umumnya
eritrosit berupa makroovalositosit dengan ukuran sel yang tak sama
(anisositosis) dan akromia sentral yang sempit dan tidak ada. Variasi lain
adalah :”hand mirror cell”,”basophilic stippling”, “diffusely polychromatic
cells”. Pada anemia yang lanjut bisa dijumpai “Orthochromic/
Polychromatophilic/Basophilic normoblasts”, Howell Jolly body” dan “Cabot’s
ring”.
c. Leukosit
: Hipersegmentasi netrofil, inti mempunyai lebih dari 5 lobi, bisa mencapai 6 –
10.
d. Trombosit
: berukuran besar (“giant platelets”)
5.
Makroretikulosit cenderung lebih bulat.
6.
Kadar asam folat dalam serum menurun.
Beberapa
pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk membantu diagnosis dan membedakan
defisiensi folat dari defisiensi vitamin B12. Kadar folat serum mencerminkan
asupan asam folat selama beberapa hari terakhir, sedangkan folat eritrosit
merupakan gambaran kandungan folat selama proses pematangan erirosit di sumsum
tulang. Folat eritrosit menggambarkan cadangan folat tubuh lebih baik daripada
folat serum.1,11 Pemeriksaan laboratorium untuk mengukur kadar asam
folat antara lain pemeriksaan folat serum secara mikrobiologis, competitive
protein-binding radioassay, ion capture separation, homosistein total, tes
supresi deoksiuridin (dU), dan pemeriksaan kadar FIGlu dalam urin.
I. Komplikasi
Gejala
anemia adalah lesu. Pada ibu hamil, defisiensi asam folat dikaitkan dengan
defek tabung neural (spina bifida)
Komplkiasi
berat lain:
1. Gangguan
pigmentasi dan struktur rambut (keriting dan berwarna abu-abu)
2. Peningkatan
pigmentasi kulit
3. Infertility
4. Penyakit
jantung menjadi berat dan gagal jantung (heart failure)
J. Diagnosis
Selain
anamnesis dan pemeriksaan fisis, diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan
folat serum dan folat eritrosit. Cara pengukuran folat plasma dan eritrosit
terbaru ialah dengan menggunakan cara microbiological assay atau competitive binding technique.20
Kadar
asam folat serum normal sekitar 9-45 nm (3-16 mg/ml). Defisiensi asam folat
ditegakkan bila kadar asam folat serum kurang dari 3 mg/ml dan asam folat
eritrosit kurang dari 100 mg/ml.13,20
Di
samping asam folat, untuk pematangan akhir sel darah merah diperlukan vitamin
B12;4,20 oleh karena itu anemia megaloblastik dapat pula disebabkan
oleh defisiensi vitamin B 12. Seperti halnya defisiensi asam folat, defisiensi
vitamin B12 dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan non hemopoletik
yaitu pada sistem saraf yang memberikan gejala dan tanda neurologis seperti
parestesia ekstremitas, penurunan refleks tendon dalam dan pada stadium lanjut
dapat terjadi penurunan ingatan dan penurunan fungsi penglihatan.4,6,21
K. Penatalaksanaan
Tujuan
adalah identifikasi dan mengatasi penyebab defisiensi asam folat , Suplemen
asam folat diberikan peroral atau intravena (terapi jangka pendek) sampai
anemia teratasi. Pada gangguan absorbsi di usus, terapi diberikan sepanjang
hidup .Terapi diet sumber makanan kaya akan asam folat. Penggunaan terapi asam
folat dalam klinik terbatas pada pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin.
Penggunaan asam folat secara efektif tergantung pada keakuratan diagnosis dan
pemahaman mengenai mekanisme terjadinya penyakit.
Prinsip-prinsip
umum yang perlu diperhatikan:24 pemberian asam folat profilaksis
harus dengan indikasi yang jelas, pada setiap pasien dengan defisiensi asam
folat, harus dicari penyebabnya dengan teliti, sebaiknya merupakan terapi yang
spesifik, dan folat tidak dapat memperbaiki kelainan neurologis, yang
disebabkan oleh defisiensi vitamin B12.
Folat
tersedia sebagai asam folat dalam bentuk tablet 0,1, 0,4, 10, 20 dan dalam
bentuk injeksi asam folat 5 mg/cc. Selain itu terdapat pula dalam berbagai
sediaan multivitamin dan mineral.9,22 Pengobatan pasien dengan anemia megaloblastik
akut berupa asam folat 1-5 mg intra muskular dan dilanjutkan dengan maintenance 1-2 mg/hari oral selama 1-2
minggu. Pemberian asam folat secara oral dengan dosis 0,5-1 mg sehari pada
pasien anemia mega- loblastik umumnya memuaskan.9
Terapi
profilaktik pada bayi prematur 50 mg/hari.33 Terapi selama 4 bulan biasanya
cukup untuk memperbaiki gejala klinis dan untuk mengganti sel darah;16,33
Namun bila penyebab defisiensi belum dapat diatasi, perlu terapi yang lebih
lama.17,23
Meliputi
pengobatan terhadap penyebabnya dan dapat dilakukan pula dengan pemberian/suplementasi
asam folat oral 1 mg per hari.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Menurut konsep evidence based bahwa
pemakaian asam folat pada masa kehamilan dapat menurunkan risiko kerusakan
otak, kelainan neural, spina bifida, dan anencepalus, baik pada ibu hamil yang
normal maupun yang berisiko.
B. Saran
Demikianlah
makalah ini kami buat sebaik–baiknya namun sebagai manusia penulis selalu tidak
lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun penulis
sangat diharapkan untuk menyempurnakan makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Antony AC. Megoblastic anemias. In:
Hoffman R, Benz EJ, Shattil SS, et al., eds. Hematology: Basic Principles and
Practice. 5th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Churchill Livingstone; 2008:chap
39.
2.
Kaferie J, Strzoda CE. Evaluation of
macrocytosis. Am Fam Physician. 2009;79:203-208.
3.
McKenzie SB. Megaloblastic and
nonmegaloblastic macrocytic anemias. Dalam: Textbook of hematology, edisi ke-2.
Baltimore, Williams & Wilkins, 1996. h . 179-99.
4.
Hoffbrand AV, Pettit JE. Megaloblastic
anaemias and other macrocytic anemias. Dalam: Essential haematology, edisi
ke-3. London, Blackwell science, 1999. h. 53-73.
5.
Mc. Laren DS, Burman D, Belton NR,
William AD. Textbook of pediatric nutrition. Edisi ke-3. London: WB Saunders,
1991. h. 416-8.
6.
Lanzkowsky P. Manual of pediatrics
hematology and oncology. Edisi ke-2. New York: Churchill Livingstone Inc, 1995.
h. 51-62.
7.
Mayes PA. Vitamin yang larut dalam air.
Dalam: Harper HA, Rodwell VW, Mayes PA. penyunting. Biokimia; edisi 17.
Jakarta: EGC, 1974. h. 180-7.
8.
Rosalind SG. Assessment of the status of
folate and vitamin B-12. Dalam: Principles of nutritional assessment, New York,
Oxford university press, 1990. h. 46-56.
9.
Fomon SJ. Infant nutrition. Edisi ke-2.
Philadelphia: WB Saunders, 1990. h. 233-4.
10. Lostpeich-Steinger
CA. Anemias of abnormal nuclear development. Dalam: Clinical hematology
principle, procedure, correlations, edisi ke-2, Philadephia, Lippincott, 1998.
h. 155-73.
11. Berry
JR, Li Z, Erickson JD, LiS, Moore CA, Wang H, dkk. Preventation of neural tube
defects with folic acid in China. N Engl. J Med. 1999; 341:1485-90.
12. Besa
EC, Catalono PM, Kant JA, Jerreries LC, penyunting. Anermia associated with DNA
synthesis. Dalam: Hematology. Edisi ke-1. Baltimore: William & Wilkins;
1992. h. 79-93.
13. Pittiglio
DH, Sacher RA, penyunting. Megaloblastic anemias. Dalam: Clinical hematology
and fundamentals of hemostasis. Philadelphia, F.A Davis Co. 1987. h. 58-72.
14. Daly
LE, Kirke PN, Molloy A, dkk,. Folate level and neural tube defect. JAMA 1995;
274:1698-762.
15. Rayburn
WF, Stanley JR, Garret E. Periconceptional folete intake and neutral defets.
AJCN 1996; 15:121-5.
16. Brouwer
IA. Folic acid, folate and homocysteine: Human intervention studies,
Thesis:1999. Dikutip dari Steeger.
17. Mills
JL, Scott JM. Homocysteine and neural tube defects, J Nutr 126; 1996:60s-75s.
18. Brattsrorn
L. Vitamin as homocystein-lowering agets, J Nutr 126; 1996:1276S-80S.
19. Hillman
RS. Hematopietie agents. Dalam: Hardman JE, Limbird LE, Milinoff PB, dkk,.
Goodman & Gilman’s the pharmacological basis of therapeuties. Edisi ke-9,
New York. Mc Graw-Hill, 1996. h. 1326-36.
20. Mattews
CK, Van Holde KE. Biochemistry. California: Cummings Publishing Co, Inc, 1990:
693-9.
21. Kadir
RA, Sabinc, Whitlow B, dkk. Neutral tube defect and periconceptional folic acid
in England and Wales: retrospective study. Br Med J 1999; 319:92-3.
22. American
Academy of Pediatrics. Folic acid for the prevention of neutral tube defect.
Pediatrics 1999; 104:325-7.
23. Committee
on Genetics. Folic acid for preventation of neural tube defets. Pediatrics
1993; 92:493-4.
24. The
Centers for disease control and prevention. Knowledge and use of folic acid by
woman of childbearing. Age united states, 1995 and 1998, JAMA 1999; 281:1883-4


Komentar
Posting Komentar