MAKALAH UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Tepat 81 tahun
lalu (1928), Sir Alexander Fleming telah meletakkan tonggak paling bernilai
dalam dunia pengobatan.Penemuan Penicillin dari bahan natural, jamur Penicilium
notatum telah berjasa menyelamatkan nyawa jutaan orang dari ganasnya berbagai
penyakit infeksi yang sebelumnya sulit tertangani.Konsep “kuman dapat dibunuh
dari zat yang dihasilkan oleh kuman dan jamur” memicu penemuan berbagai obat
lainnya seperti tetrasiklin, sefalosporin, erythromycin dan banyak lainnya yang
sekarang kita kenal sebagai Antibiotika.Sehingga pantaslah bagi Lembaga Nobel
menganugerahi Alexander Fleming Hadiah Nobel untuk bidang kedokteran pada 1945.
Infeksi merupakan salah satu penyebab utama timbulnya
penyakit di daerah tropis seperti Indonesia karena keadaan udara yang banyak
berdebu, temperatur yang hangat dan lembab sehingga mikroba dapat tumbuh
subur.Keadaan tersebut ditunjang dengan kemudahan transportasi dan keadaan
sanitasi yang buruk sehingga memudahkan penyakit infeksi semakin berkembang
(Kuswandi, 2001).
Infeksi adalah adanya suatu
mikroorganisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis
baik lokal maupun sistemik.Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh empat
kelompok besar hama penyakit, yaitu : bakteri, jamur, virus dan parasit (Jawetz
et al., 2001).
Dalam beberapa dekade terakhir ini
infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis memang
makin sering terjadi.Staphylococcusepidermidis memproduksi sejenis
toksin atau zat racun.Bakteri ini juga memproduksi semacam lendir yang
memudahkannya untuk menempel di manamana, termasuk di permukaan alat-alat yang
terbuat dari plastik atau kaca.Lendir ini pula yang membuat bakteri Staphylococcus
epidermidis lebih tahan terhadap fagositosis (salah satu mekanisme pembunuhan
bakteri oleh sistem kekebalan tubuh) dan beberapa antibiotika tertentu (Sinaga,
2004).
Sebagai upaya penanggulangan,
penyakit infeksi dapat diatasi melalui pengobatan menggunakan antibiotika.Obat
yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada manusia ditentukan
harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin.Artinya obat tersebut
haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik
terhadap hospes.Agen antibakteri yang optimal untuk pengobatan suatu infeksi adalah
antibakteri yang mempunyai spektrum aktivitas yang paling sempit, dengan efek
samping dan toksisitas minimal (Shulman dkk., 1994).
Antibiotik dapat mempengaruhi
kesehatan manusia secara langsung maupun tidak langsung.Secara langsung
antibiotik memiliki sifat toksik bagi manusia, sebagai contoh kloramfenikol
memiliki efek samping yang cukup serius, yaitu penekanan aktivitas sumsum
tulang yang berakibat gangguan pembentukan sel-sel darah merah. Risiko lain
bagi kesehatan manusia secara tidak langsung dalam penggunaan antibiotik adalah
terjadinya resistensi mikroba.
Penggunaan antibiotik secara
besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya
resistensi.Banyak strain dari pneumococcus, staphylococcus, enterococcus, dan
tuberculosis telah resisten terhadap banyak antibiotik, begitu juga klebsiella
dan Pseudomonas aeruginosa juga telah bersifat multiresisten (Utama,
2006).
Sejarah resistensi bakteri terhadap
antibiotik diawali dari ditemukannya staphylococcus yang resisten terhadap penicillin
pada awal 1940-an. Sejak itu resistensi tunggal maupun multiple (multidrug
resistance) dapat dipindahkan dari satu ke lain mikroorganisme yang dirawat
di rumah sakit (Dwiprahasto, 2005).
Salah satu bakteri staphylococcus
yang telah resisten dengan obat-obat antibiotika turunan penicillin yang umum
dipakai adalah Staphylococcus epidermidis.Karena itu, untuk mengatasinya
perlu antibiotik seperti vancomycin dan obat-obat sulfa, misalnya
trimethoprim-sulfamethoxazole (Sinaga, 2004).
I.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut,
dapat dirumuskan suatupermasalahan yaitu bagaimanakah sensitivitas bakteriterhadap
beberapa antibiotik?
I.3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini untuk
mengetahui sensitivitas Staphylococcusepidermidis dan E.Coli terhadap
beberapa antibiotik.
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Bakteri
Bakteri adalah prokariot, DNAnya tidak terletak di dalam
nukleus.Banyak bakteri mengandung lingkaran DNA ekstrakromosomal yang disebut
plasmid.Di dalam sitoplasma tidak terdapat organel lain selain ribosom,
yangberukuran lebih kecil dibandingkan sel-sel eukaryotik (Hart dan Shears, 2004).
Berdasarkan bentuk morfologisnya bakteri dapat
digolongkanmenjadi 3 golongan yaitu :
a. Basil (bacillus) berbentuk tongkat
pendek, silindris sebagian besarbakteri berupa basil. Basil dapat
bergandeng-gandengan panjang(streptobasil), bergandengan dua-dua (diplobasil)
atau terlepas satusama lain.
b. Kokus (coccus) adalah bakteri serupa
bola-bola, golongan ini tidaksebanyak golongan basil, kokus ada bergandengan
panjang serupatali leher (streptokokus), bergandengan dua-dua
(diplokokus),mengelompok berempat (tetrakokus), mengelompok
(stafilokokus),mengelompok seperti kubus (sarsina).
c. Spiril (spirillum) yaitu bakteri
berbentuk bengkok atau berbengkok-bengkokserupa spiral. Bakteri bentuk spiral
ini tidak banyakterdapat dan merupakan golongan yang paling kecil
Berdasar pengaruh temperatur
terhadap kegiatan fisiologi ada 3golongan bakteri yaitu :
a. Bakteri termofil (potermik) yaitu
bakteri yang tumbuh dengan baikpada temperatur tinggi 55˚C sampai 65˚ C
b. Bakteri mesofil (mesotermik) yaitu
bakteri yang hidup dengan baikdiantara temperatur 5˚C sampai 60˚C dan
temperatur optimumnya25˚C sampai 40˚C.
c. Bakteri psikrofil (oligotermik)
yaitu bakteri yang dapat hidupdengan baik diantara temperatur 0˚C sampai 30˚C
sedangtemperatur optimumnya 10˚C sampai 20˚C (Dwijoseputro, 1984).
Berdasar
sifat pengecatannya, bakteri dibedakan atas :
a. Bakteri
Gram positif
adalah bakteri yang pada pengecatan Gramtahan terhadap alkohol, sehingga tetap
mengikat warna cat pertama(Gram A) dan tidak mengikat warna yang kedua sehingga
bakteriakan berwarna ungu. Contoh bakteri Gram positif adalahStreptococcus dan
Staphylococcus.
b. Bakteri
Gram negatif
adalah bakteri yang pada pengecatan Gramtidak tahan terhadap alkohol sehingga
warna cat pertama (Gram A)akan dilunturkan dan bakteri akan mengikat warna yang
keduasehingga bakteri akan berwarna merah. Contoh bakteri Gramnegatif adalah E.coli,
Shigella, Salmonella, Klebsiella.
Bakteri
Gram positif maupun Gram negatif memiliki suatumembran plasma yang dibentuk
oleh lapisan lemak dua lapis (lipid bilayer) bersama dengan protein.Pada
keduanya, komponen struktural utama daridinding sel adalah kerangka tiga
dimensi dari polisakarida Nasetilglukosamin, asam N-asetilmuramat, dan asam
amino yang dinamakan peptidoglikan (Hart dan Shears, 2004).
Bakteri
Gram positif, hampir seluruh dinding selnya terdiri dari lapisan peptidoglikan
dengan polimer-polimer asam teikoat yang melekat padanya. Bakteri Gram negatif
memiliki dinding sel yang lebih kompleks, lapisan peptidoglikannya lebih tipis
dibandingkan bakteri Gram positif dan dikelilingi
oleh suatu membran luar yang terdiri dari lipopolisakarida dan lipoprotein.
Komponen lipopolisakarida dari dinding sel Gram negative merupakan molekul
endotoksin yang memberikan sumbangan pada patogenesis bakteri (Hart dan Shears,
2004).
II.2.
Staphylococcus
Staphylococcus merupakan sel yang
berbentuk bola dengan diameter 1 μm, tersusun dalam bentuk kluster yang tidak teratur
seperti anggur.Staphylococcus termasuk dalam bakteri Gram positif
coccus.Coccustunggal, berpasangan, tetrad, dan berbentuk rantai juga tampak
dalam biakan cair.Staphylococcus tumbuh dengan cepat pada beberapa tipe media
dandengan aktif melakukan metabolisme, melakukan fermentasi karbohidrat dan menghasilkan
bermacam-macam pigmen dari warna putih hingga kuning gelap. Beberapa merupakan
anggota flora normal pada kulit dan selaput lender manusia, yang lain ada yang
menyebabkan supurasi dan bahkan septicemia fatal (Jawetz et al., 2001).
Staphylococcus bersifat nonmotil dan
tidak membentuk spora.Staphylococcus tumbuh dengan baik pada berbagai media
bakteriologi di bawah suasana aerobik atau mikroaerofilik.Tumbuh dengan cepat
pada temperatur 37˚C, namun pembentukan pigmen yang terbaik adalah pada temperatur
kamar (20-35˚C).Staphylococcus menghasilkan katalase yang membedakannya dengan
Streptococcus. Staphylococcus memfermentasi karbohidrat, menghasilkan asam
laktat dan tidak menghasilkan gas (Jawetz etal., 2001).
Staphylococcus bisa menyebabkan
penyakit melalui kemampuannya memperbanyak diri dan menyebar secara luas di
dalam jaringan.Selain itu juga melalui substansi ekstraseluler yang
dihasilkannya, seperti :
a. Katalase
Staphylococcus
menghasilkan katalase yang mengubahhidrogen peroksida menjadi air dan oksigen.
Test katalase berfungsiuntuk membedakan genus staphylococcus dan streptococcus,
dimanapada genus staphylococcus memberikan hasil yang positif denganditandai
terbentuknya gelembung udara dan streptokokus memberikanhasil yang negatif
(Jawetz et al., 1996).
b. Koagulase
Staphylococcus
aureus menghasilkan
koagulase, suatu proteinmirip enzim yang dapat menggumpalkan plasma yang telah
diberioksalat atau sitrat dengan bantuan suatu faktor yang terdapat dalambanyak
serum. Faktor serum bereaksi dengan koagulase untukmenghasilkan esterase dan
menyebabkan aktivitas pembekuan, dengancara yang mirip dengan pengaktifan
protrombin menjadi trombin.Koagulase dapat mengendapkan fibrin pada
permukaanStaphylococcus, yang mungkin dapat mengubah pola pemakananbakteri oleh
sel-sel fagosit atau perusakannya dalam sel ini (Jawetz etal., 1996).
c. Enzim-enzim lain
Beberapa
enzim lain yang diproduksi oleh staphylococcus antaralain : staphylokinase,
proteinase, kinase dan beta laktamase (Todar,2002).
d. Eksotoksin
Termasuk
dalam kelompok ini adalah beberapa toksin yang dapatmenyebabkan kematian pada
binatang yang terinfeksi, nekrosis padakulit dan mengandung hemolisin yang
dapat dipisah melaluielektroforesis. Yang termasuk dalam kelompok ini, antara
lain : alfatoksin, beta toksin, delta toksin, gamma toksin dan leukotoksin.
Staphylococcus mengandung antigen
polisakarida dan proteinseperti zat lain yang penting dalam struktur dinding
sel. Genus Staphylococcus sedikitnya memiliki 30 spesies. Ada tiga tipe yang
berkaitan dengan medis yaitu Staphylococcus aureus, Staphylococcus
epidermidis, dan Staphylococcussaprophyticus.Staphylococcus dapat
menyebabkan penyakit karena kemampuannya melakukan pembelahan dan menyebar luas
ke dalam jaringan dan melaui produksi beberapa bahan ekstraseluler. Beberapa
dari bahan tersebut adalah enzim, yang lain dapat berupa toksin, meskipun
fungsinya adalah sebagai enzim. Beberapa toksin berada dibawah kontrol genetic plasmid,
beberapa di bawah kontrol baik kromosom maupun ekstrakromosom (Jawetz et
al., 2001).
II.3.
Staphylococcus epidermidis
a.
Sistematika
Bakteri
Sistematika
Staphylococcus epidermidis adalah sebagai berikut :
Divisio
: Protopyta
Classis
: Schizomycetes
Ordo
: Eubacteriales
Familia
: Micrococcaceae
Genus
: Staphylococcus
Species
: Staphylococcus epidermidis
b.
Morfologi
dan identifikasi
Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri Gram
positifberbentuk bola dengan diameter 1μm yang tersusun dalam
kelompokkelompokyang tidak teratur.Pada biakan cair tampak bentuk
coccustunggal, berpasangan, berbentuk rantai.Bakteri ini tumbuh baikpada
berbagai media bakteriologi dibawah suasana aerobik.Tumbuhdengan cepat pada
temperatur 37°C namun pembentukan pigmen yangterbaik pada temperatur kamar
(20-35°C).Sedangkan koloni pada mediapadat berbentuk bulat, lembut dan
mengkilat.Koloni Staphylococcusepidermidis ini biasanya berwarna abu-abu
hingga putih terutama padaisolasi primer, beberapa koloni menghasilkan pigmen
hanya padainkubasi yang diperpanjang.Staphylococcus epidermidis non
patogenik,tidak bersifat invasif, koagulase negatif dan cenderung
menjadinonhemolitik (Jawetz et al., 2001).Staphylococcus epidermis bersifatkoagulase
negatif, meragi glukosa, dalam keadaan anaerob tidakmeragi manitol.
c. Patogenesis
Staphylococcus epidermidis terdapat sebagai flora normal
padakulit manusia dan pada umumnya, tidak menjadi masalah bagi orang normalyang
sehat.Akan tetapi, kini organisme ini menjadi patogen oportunis yangmenyebabkan
infeksi nosokomial pada persendian dan pembuluh darah.
Organisme itu juga penyebab infeksi saluran kencing,
terutama pada pasienanak-anak dan laki-laki lanjut usia yang telah mengalami
penggunaaninstrumen uretra. Kuman ini dapat merupakan penyebab infeksi kulit
yangringan yang disertai pembentukan abses dan infeksi tertentu
khususnyaendokarditis.Kuman ini juga disebut sebagai Staphylococcus albus.Staphylococcus
epidermidis menimbulkan infeksi pada neonatus,orang-orang yang sistem
kekebalannya rendah, dan pada penderita yangmenggunakan alat yang dipasang di
dalam tubuh (Hart dan Shears, 2004).
II.4.Escherichia coli
a.
Sejarah
Escherichia
coli pertama kali diidentifikasikan
oleh seorang dokter hewan dari Jerman, Theodore Escherich dalam studinya
mengenai sistem pencernaan pada bayi hewan. Pada 1885, beliau menggambarkan
organisme ini sebagai komunitas baktericoli(Esccherich
1885) dengan membangun segala perlengkapan patogenitasnya di infeksi saluran
pencernanaanNama “Bacterium Coli”
sering digunakan sampai pada tahun 1991.Ketika Castellani dan Chalames
menemukan genus Escherichia dan
menyusun tipe spesies Escherichia coli.
b.
Klasifikasi
Klasifikasi E. coli menurut Nugraha (2013), yaitu:
Kingdom : Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : GammaProteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Spesies :
Escherichia coli
c. Karakteristik
Escherichia
coli adalah bakteri gram negatif berbentuk
batang dalam sel tunggal atau berpasangan, merupakan anggota famili Enterobacteriacea
dan flora normal intestinal yang mempunyai kontribusi pada fungsi normal
intestin dan nutrisi tetapi bakteri ini akan menjadi patogen bila mencapai
jaringan di luar jaringan intestinal. Spesies E.coli bersifat motil
dengan flagel peritrik yang dimilikinya, tetapi beberapa ada yang nonmotil.
Manifestasi klinis dari infeksi E. Coli ini tergantung pada daerah
infeksi dan tidak dapat dibedakan dari gejala yang disebabkan oleh bakteri
lainnya (Noviana Hera,2004).
Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri
berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 mikrometer dan diamater 0,5
mikrometer. Volume sel Escherichia coli berkisar 0,6-0,7 mikrometer kubik. Bakteri ini
termasuk umumnya hidup pada rentang 20-407. optimum pada 37. Bakteri Escherichia coli hidup di usus besar manusia yang berfungsi membusukkan sisa-sisa
makanan (Ardiansyah, 2009).
d. Penyakit yang disebabkan
Salah satu infeksi nosokomial yang
sering dijumpai adalah infeksi saluran urin yang disebabkan bakteri patogen
penyebab infeksi nosokomial yang paling umum adalah Staphylococcus aureus,
Escherichia coli. Hal ini dikarenakan pemakaian kateter dalam waktu yang
lama dan tidak diganti-ganti. Biasanya penggunaan kateter dalam waktu lama ini
banyak ditemukan pada pasien yang dirawat di bangsal saraf, karena pasien yang
dirawat di bangsal saraf ini pada umumnya pasien yang sudah berumur tua,
berbaring lama dan dengan penyakit yang parah (Darmadi, 2008).
II.4. Isolasi dan Identifikasi Bakteri
1. Isolasi Bakteri
Isolasi bakteri digunakan untuk memisahkan
biakan atau bakteri campurandengan menggunakan media kultur sehingga diperoleh
isolat atau biakanmurni.
Metode atau cara isolasi dapat dilakukan
dengan berbagai cara antara lain:
a. Cara goresan (Streak Plate
Methode)
Cara
ini dilakukan dengan menggoreskan bahan yang mengandungbakteri pada permukaan
media agar yang sesuai dalam cawan petri.Setelah diinkubasi maka pada media
bekas goresan akan timbul koloniterpisah.
b. Cara Taburan (Pour Plate Methode)
Cara
ini dilakukan dengan menginokulasikan media agar yang sedangmencair pada suhu
500C dengan suspensi bahan yang mengandungbakteri atau memasukkannya kedalam
cawan petri steril. Setelahdiinkubasi akan terlihat koloni-koloni tersebar di
seluruh bagian mediaagar (Hadioetomo, 1985).
2. Pewarnaan Gram
Metode pewarnaan atau pengecatan Gram
ditemukan olehChristian Gram pada tahun 1884. Berdasar sifat bakteri terhadap
cat Gram,bakteri dapat digolongkan menjadi Gram positif dan Gram negatif.
Ada beberapa teori tentang dasar perbedaan
kedua golongan tersebut:
a. Teori Salton
Teori ini berdasarkan kadar lipid yang tinggi (20 %) di
dalamdinding sel bakteri Gram negatif. Zat lipid ini larut selama
pencuciandengan alkohol.Pori-pori pada dinding sel membesar, sehingga zatwarna
yang sudah diserap mudah dilepaskan dan bakteri menjadi tidakberwarna.
Bakteri
Gram positif mengalami denaturasi protein padadinding selnya oleh pencucian
dengan alkohol. Protein menjadi kerasdan beku, pori-pori mengecil sehingga
komplek ungu kristal Iodiumdipertahankan dan bakteri tetap berwarna ungu.
b. Teori Permeabilitas Dinding Sel
Teori ini berdasarkan tebal-tipisnya lapisan
peptidoglikandalam dinding sel. Bakteri Gram positif mempunyai susunan
dindingyang kompak dengan lapisan peptidoglikan yang terdiri dari
30lapisan.Permeabilitas dinding sel kurang dan kompleks ungu Kristal iodium
tidak dapat keluar.
Bakteri Gram negatif mempunyai lapisan peptidoglikan
yangtipis, hanya 1-2 lapisan dan susunan dinding sel tidak kompak.Permeabilitas
dinding sel lebih besar sehingga masih memungkinkanterlepasnya kompleks ungu
kristal iodium (Anonim, 2004).
Pewarnaan atau pengecatan Gram mengidentifikasikan
bahwabakteri Gram positif adalah bakteri yang pada pengecatan Gram
tahanterhadap alkohol sehingga tetap mengikat cat pertama (cat Gram A) dantidak
mengikat cat kontras (cat Gram D) sehingga bakteri akan berwarnaungu. Bakteri
Gram negatif adalah bakteri yang pada pengecatan Gramtidak tahan alkohol
sehingga warna cat yang pertama (cat Gram A)dilunturkan dan bakteri akan
mengikat warna kontras (cat Gram D)sehingga bakteri akan berwarna merah
(Anonim, 2004).
3. Pemeriksaan Biokimiawi
a. Uji Katalase
Pemeriksaan ini bertujuan untuk membedakan
jenis bakteri Grampositif antara Streptococcus (negatif) dan Staphylococcus
(positif).Dasar pemeriksaan ini adalah kemampuan bakteri yang
dapatmelakukan katalase, dimana mampu menguraikan H2O2 danmengeluarkan
gelembung oksigen (Hart dan Shears, 2004).
b. Uji Koagulase
Bertujuan untuk membedakan kemampuan
koagulase positif(Staphylococcus aureus) dari bakteri Staphylococcus
yang negatif.Prinsipuji ini didasarkan atas kemampuan bakteri yang mengandung
enzimkoagulase sehingga dapat membekukan plasma (Hart dan Shears, 2004).
Staphylococcus
aureus mempunyai
dua macam koagulase, yaitu :
1) Koagulase terikat atau faktor
penjendalan yang terikat pada dinding sel bakteri. Bila suspensi bakteri dicampur
dengan plasma maka enzim tersebut dapat menggumpalkan fibrin yang ada di dalam
plasma membentuk deposit pada permukaan selnya. Kemampuan ini diduga untuk
menghindarkan sel dari serangan sel fagosit hospes. Dapat dideteksi dengan slide
test (untuk uji cepat atau screening).
2) Koagulase bebas adalah enzim
ekstraseluler yang juga dapat menjendalkan fibrin. Dapat dideteksi dengan uji
tabung (Anonim, 2004).
c. Uji DNAse
DNAse
adalah enzim ekstraseluler yang dapat memotong DNAmenjadi nukleotida yang dapat
larut dalam asam, sedangkan DNAtidak larut dalam asam. Cara pemeriksaan uji
DNAse yaitu bakteridigoreskan pada media agar DNAse, kemudian diinkubasikan
padasuhu 350 C selama 18-24 jam, lalu koloni digenangi dengan HCl 1M.
Tes dinyatakan positif bila daerah
di sekitar koloni tampak jernih(Anonim, 2004).
d. Uji Manitol
Uji ini dapat digunakan untuk
membedakan Staphylococcusaureus dan yang lain karena pada umumnya Staphylococcus
aureusmampu memfermentasi manitol dalam keadaaan anaerob, sedangkanspesies
yang lain jarang. Ada dua cara pemeriksaan, yaitu :
1) Satu koloni bakteri diinokulasikan
pada media agar manitol di dalam tabung, dengan cara menusukkan ke bawah
sepanjang tabung, kemudian diinkubasikan pada 350C selama 48 jam. Dinyatakan
positif bila terjadi perubahan warna menjadi kuning pada bagian atas dan bawah
media tersebut.
2) Bakteri digoreskan pada agar garam
manitol (Manitol Salt Agar = MSA) dan diinkubasikan pada 370C
selama 36 jam. Bila daerah disekitar koloni berwarna kuning menunjukkan bahwa
bakteri tersebut adalah Staphylococcus aureus (Anonim, 2004).
e. Uji Novobiosin
Uji
ini dilakukan untuk membedakan Staphylococcus epidermidisdengan Staphylococcus
saprophyticus.Staphylococcus epidermidisbersifat sensitif tarhadap
novobiosin sedangkan Staphylococcussaprophyticus bersifat resisten
terhadap novobiosin (Levinson, 2004).
II.5. Antibiotik
Antibiotik
ialah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutamafungi, yang dapat
menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Obatyang digunakan untuk
membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, ditentukan harus memiliki
sifat toksisitas selektif setinggi mungkin.Artinya obat tersebut haruslah
berifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes
(Setiabudy dan Gan, 1995).
Berdasar
mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi dalam lima kelompok:
a. Yang mengganggu metabolisme sel
mikroba
Antimikroba
yang termasuk dalm kelompok ini ialahsulfonamide, trimetropim, asam amino
salisilat (PAS) dan sulfon.Dengan mekanisme kerja ini diperoleh efek
bakteriostatik.
b. Yang menghambat sintesis dinding sel
mikroba
Obat
yang termasuk dalam kelompok ini ialah penicillin,sefalosporin, basitrasin,
vankomisin, dan sikloserin.Dinding selbakteri terdiri dari polipeptidoglikan
yaitu suatu kompleks polimermukopeptida (glikopeptida). Oleh karena tekanan
osmotik dalam selkuman lebih tinggi daripada diluar sel maka kerusakan dinding
selkuman akan menyebabkan terjadinya lisis, yang merupakan dasar
efekbakterisidal pada kuman yang peka.
c. Yang mengganggu keutuhan membran sel
mikroba
Obat
yang termasuk dalm kelompok ini adalah polimiksin,golongan polien serta
berbagai antimikroba kemoterapeutik,umpamanya antiseptik surface active
agent yaitu antiseptik yangmengubah tegangan permukaan, dapat merusak
permeabilitas selektifdari membran sel mikroba. Kerusakan membran sel
menyebabkankeluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel mikroba
yaituprotein, asam nukleat, nukleotida dan lain-lain.
d. Yang menghambat sintesis protein sel
mikroba
Obat
yang termasuk dalam kelompok ini ialah golonganaminoglikosida, makrolid,
linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol.
e. Yang menghambat sintesis asam
nukleat sel mikroba
Antimikroba
yang termasuk dalam kelompok ini ialah rifampisin,dan golongan kuinolon.Yang
lainnya walaupun bersifat antimikroba,karena sifat toksisitasnya, pada umumnya
hanya digunakan sebagaiobat anti kanker, tetapi beberapa obat dalam kelompok
terakhir inidapat pula digunakan sebagai antivirus (Setiabudy dan Gan, 1995).
Berdasarkan daya kerjanya,
antibiotik dibagi dalam dua kelompok, yaituantibiotik bakteriostatik dan
antibiotik bakterisidik.Kelompok pertama menghambat pertumbuhan dan perkembangan
bakteri, kelompok yang kedua bekerja mematikan bakteri tersebut.Daya kerja ini
nampaknya berkaitan pula dengan mekanisme kerja antibiotika tersebut. Adapun
antibiotik yang bekerja menghambat sintesis protein bakteri, bersifat
bakteriostatik, contohnya :kelompok tetrasiklin, kloramfenikol, linkomisin, eritromisin.
Sedangkan antibiotic yang bekerja menghambat biosintesis dinding sel bakteri,
bersifat bakterisidik, contohnya :
penisilin dan derivatnya : basitrasin, kelompok aminoglikosida, polimiksin,
rifampisin (Wattimena dkk., 1991).
a.
Gentamycin
Gentamycin termasuk dalam antibiotik golongan Aminoglikosida,Gentamycin
dihasilkan oleh Micromonospora purpurea dan aktif terhadapberbagai macam
bakteri Gram positif dan Gram negatif (Pelczar dan Chan,1988).
Mekanisme
kerjanya adalah aminoglikosida masuk kedalam sel,aminoglikosid terikat pada
ribosom 30S dan menghambat sintesis protein.Terikatnya aminoglikosid pada
ribosom ini mempercepat transportaminoglikosid ke dalam sel, diikuti kerusakan
membran sitoplasma, dandisusul kematian sel. Mekanisme resistensi bakteri
terhadap aminoglikosidperlu diketahui untuk mengerti spektrum antimikrobanya.
Bakteri dapatresisten terhadap aminoglikosid karena kegagalan penetrasi ke
dalam kuman,rendahnya afinitas obat pada ribosom atau inaktivasi obat oleh
enzim kuman(Setiabudy dan Gan, 1995).
b.
Ciprofloxacin
Ciprofloxacin adalah senyawa
bakterisid turunan fluorokuinolon.Strukturnya berhubungan dengan asam
nalidiksat tetapi mempunyai khasiatantibakteri lebih besar dan spektrum yang
lebih luas dibandingkan asamtersebut. Ciprofloxacin digunakan untuk pengobatan
infeksi yang disebabkanoleh bakteri Gram negatif seperti E. coli, Proteus
mirabilis, Klebsiella sp,Shigella sp, Enterobacter, Chlamydia sp, Salmonella
sp, dan P. aeruginosaserta bakteri Gram positif tertentu (Soekardjo dan
Siswandono, 2000).
Mekanisme
kerja dari antibiotik ini dengan menghambat prosesterbentuknya superkoil DNA
yang berikatan dengan enzyme gyrase DNAyaitu suatu enzim yang penting pada
replikasi dan perbaikan DNA (Shulmandkk., 1994). Resistensi bakteri terhadap
antibiotik ini dapat terjadi karenaadanya mutasi gen yang mengkode polipeptida
sub unit A enzim gyrase DNA(Jawetz et al., 2001).
c.
Oxacillin
Oxacillin adalah turunan Penicillin yang tahan terhadap asam
dantahan terhadap enzim penisilinase.Oxacillin menghambat pertumbuhanbakteri
dengan jalan menghambat dalam sintesis dinding sel bakteri
(Katzung,2004).Adanya gugus 3-fenil dan 5-metil pada cincin isosaksolil
dapatmencegah pengikatan penisilin dengan sisi aktif ß-laktamase dan relatif
stabilterhadap hidrolisis asam sehingga dapat diberikan secara oral dengan
efekcukup baik (Soekardjo dan Siswandono,
Spektrum
antibakterinya serupa dengan penisilin G, digunakanuntuk pengobatan infeksi
staphylococcus yang tahan terhadap penisilin G.Kekuatan antibakterinya lebih
rendah dibanding penisilin V (Soekardjo danSiswandono, 2000).Khasiat oxacillin
terhadap staphylococcus jauh lebihringan (Tjay dan Raharja, 2002).
d.
Imipenem
Imipenem suatu turunan
tienamisin.Tienamisin diproduksi olehStreptomyces cattleya. Imipenem mengandung
cincin betalaktam dan cincinlima segi tanpa atom sulfur
Mekanisme
kerja imipenem menghambat sintesis dinding selkuman.Obat ini berspektrum sangat
luas, termasuk kuman Gram positif danGram negatif, baik yang aerobik maupun
anaerobik.Imipenem bersifatbakterisid.Selain itu obat ini resisten terhadap
berbagai jenis betalaktamasebaik yang diperantarai plasmid maupun
kromosom.Imipenem sangat aktifterhadap kokus Gram positif, termasuk
Staphylococcus, Streptococcus,Pneumococcus, dan E.faecalis serta kuman
penghasil betalaktamaseumumnya.Imipenem digunakan untuk pengobatan infeksi
berat oleh kumanyang sensitif, termasuk infeksi nosokomial yang resisten
tehadap antibiotic lain (Setiabudy dan Gan, 1995).
e.
Cefotaxim
Cefotaxim
adalah antibiotik golongan betalaktam yaitusefalosporin generasi
ketiga.Sefalosporin berasal dari ungus Cephalosporiumacremonium yang diisolasi
pada tahun 1948 oleh Brotzu.
Mekanisme
kerja antimikroba sefalosporin ialah denganmenghambat sintesis dinding sel
mikroba.Cefotaxim sangat aktif terhadapkuman Gram positif maupun Gram negatif
aerobik.Obat ini efektif untukpengobatan meningitis oleh bakteria Gram negatif
(Setiabudy dan Gan, 1995).
f.
Novobiosin
Novobiosin
berasal dari Streptomyces niveus.Berkhasiat bakterisidterhadap terutama
bakteri Gram positif dan khususnya staphylococcusresisten.Novobiosin bersifat
baik bakteriostatik maupun bakterisid.Efek samping agak sering terjadi dan
berupa reaksi-reaksi alergi,nausea dan muntah-muntah, urtikaria, dermatitis dan
demam, kadang-kadangleucopenia (Tjay dan Rahardja, 1986).
II.6. Jenis-Jenis
Antibiotik
a. Menghambat Sintesis Dinding Sel
Menurut pratiwi (2008), antibiotik yang
menghambat sintesis dinding sel yaitu:
1. Bacitracin adalah suatu
polipeptida yang diperoleh dari suatu strain
Bacillus subtilis. Bacitracin stabil
dan tidak dapat diabsorpsi dari saluran cerna. Kegunaan basitrasin hanya untuk
pemakaian topikal ke kulit, luka, atau selaput lendir.
2. Streptomycin adalah
antibiotik yang khas dibanding dengan aminoglycoside
lain, sebagaimana mekanisme resistennya. Resistensi muncul pada banyak spesies,
secara buruk membatasi kegunaan streptomycin
saat ini, dengan pengecualian yang disebut di bawah ini.
3. Tetracycline adalah
golongan obat yang berbeda dalam ciri khas fisik dan farmakologi tetapi
sebenarnya mempunyai sifat antimikroba yang identik dan memberikan resistansi
silang lengkap
4. Gentamicin merupakan
aminoglikosida yang banyak dipilih dan digunakan secara luas untuk terapi
infeksi serius. Gentamicin memiliki
spektrum antibakteri yang luas, tapi tidak efektif terhadap kuman anaerob.
5. Erhytromycin merupakan
antibiotik sebagai alternatif untuk pasien yang alergi terhadap penisilin untuk
pengobatan enteritis kompilobakter, pneumonia, penyakit legionnaire, sifilis,
uretritis non gonokokus, prostatitis kronik, anke vukgaris dan profilaksis
difetri dan pertusis.
6.
Oxacillin (OX) adalah
antibiotik dalam kelompok obat penicillin.
Oxacillin melawan bakteri dalam
tubuh, yang bekerja dengan cara menghalangi dinding sel bakteri sehingga
mematikan bakteri tersebut. Untuk mengobati berbagai jenis infeksi berbeda yang
disebabkan oleh bakteri, seperti infeksi Staphylococcal yang juga
disebut infeksi staph.
7.
Sefalosporin adalah Aztreonam, yang merupakan antibiotik yang mencegah efek
penisilinase. Antibiotik jenis ini merupakan antibiotik yang sintesis dengan 1
cincin seginggaa disebut monobaktam. Antibiotik ini berefek pada bakteri graam
positif termasuk Escherichia coli dan
Pseudomonas.
8.
Sefalosporin memiliki inti serupa dengan Penisilin dan resisten terhadap
penisilinase. Sefalosporin lebih efektif terhadap bakteri gram negatif.
9.
Karbapenem merupakan antibiotik berspektrum
luas. Contohnya adalah Primaxin yang
merupakan antibiotik kombinasi imipenem dan Silastasin
natrium. Silastasin natrium
mencegaah degradasi imipenem pada ginjal.
10. Vankomisin
memiliki spektrum sempit, digunakan
bagi Staphylococcus aureus yang
resisten terhadap Penisilin termasuk Metisilin.
b. Merusak Permeabilitas Membran Sel
Menurut Pratiwi (2008), antibiotik yang merusak
permeabilitas membran membran sel yaitu :
1. Polimiksin merupakan suatu peptida yang
didalamnya terdapat satu ujung molekul larut lipid dan ujung molekul yang lain
larut dalam air. Masuknya Polimiksin
dalam membran plasma fungi akan menyebabkan gangguan antara lapisan-lapisan
membran plasma. Polimiksin akan tertinggal diluar membran, sedangkan lemak
larut akan berada didalam membran dan menyebabkan gangguan antaraa
lapisan-lapisan membran yang memungkinkan lalu lintas substansi bebas keluar
masuk sel.
2. Nistatin
dan Amfoterisin memiliki struktur lingkar yang besar disebabkan adanya
sejumlah ikatan ganda dan sering disebut sebagai antibiotik polien. Antibiotik
ini bergabung dengan ergosterol yang terdapat pada membran sel fungi dengan
menimbulkan gangguan dan kebocoran kebocoran sitoplasma.
c. Menghambat Sintesis RNA (Proses
Transkripsi)
Menurut Pratiwi (2008), antibiotik yang menghambat sintesis
RNA yaitu:
1. Rifampin
merupakan turunan Rifamisin. Rifampin menghambat sintesis mRNA dengan cara mengikat b-RNA
polimerase bakteri sehingga menghambat transkripsi mRNA. Antibiotik ini
digunakan untuk melawan Mycobacteria pada TBC dan lepra. Rifampin dapat
mempenetrasi jaringan.
2. Kuinilon
misalnya asam nalidiksat yang
bersifat bakterisidal, bekerja dengan cara menghambat enzim DNAgirase pada
replikasi DNA, sehingga akan menghambat proses replikasi DNA dan transkipsi
mRNA. Antibiotik ini hanya digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kencing.
d.
Menghambat
Sintesis Protein (Proses Translasi)
Menurut Pratiwi (2008), antibiotik yang menghambat sintesis
protein yaitu:
1.
Pefloxacin (PEF) umumnya
dikenal sebagai obat antibakteri kelompok fluoroquinolone. Pefloxacin adalah agen kemoterapetik
sintetik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang serius dan
mengancam nyawa. Untuk mengobati berbagai jenis infeksi bakteri
2.
Tetracyccline (TE) merupakan
antibiotik berspektrum luas yang menghambat sintesis protein. Agen-agen ini
bersifat bakteriostatik terhadap berbagai bakteri gram positif dan gram
negatif, termasuk anaerob, ricketsiae,
chlamydiae, mycoplasma, dan bentuk-bentuk L, serta aktif pula terhadap
protozoa, contohnya amoeba.
3.
Aminoglikosa merupakan kelompok antibiotik yang
gula aminonya tergabung dalam ikatan glikosida. Antibiotik ini memiliki
spektrum luas dan bersifat bakterisidal dengan mekanisme dengan mekanisme penghambatan
pada sintesis protein.
4.
Tetrasiklin merupakan antibiotik berspektrum
luas yang diproduksi oleh Streptomycin.
Antibiotik ini dapat mempenetrasi jaringan tubuh sehingga dapat melawan Rickttsia dan Chlamya intraseluler.
5.
Kloramfenikol merupakan antibiotik dengan struktur
sederhana sehingga mudah dibuat ecaara sintetik dibandibgkan dengan
mengisolasinya dari Strepmyces.
6.
Makrolida merupakan kelompok antibiotik yang
memiliki cincin lakton makrosiklik. Contohnya adalah eritromisin. Antibiotik
ini tidak dapat mempenetrasi dinding sel sebagian besar bakteri gram negatif Bacillus dan merupakan obat alternatif Penisilin.
e. Menghambat Replikasi DNA
Mekanisme kerja ini terdapat pada
obat-obat seperti metronidasol, kinolon, novobiosin. Obat-obat ini menghambat asamdeoksiribonukleat
(DNA) girase sehingga mengahambat sintesis DNA. DNA girase adalah enzim yang
terdapat pada bakteri yang menyebabkan terbukanya dan terbentuknya superheliks
pada DNA sehingga menghambat replikasi DNA.
II.7. Uji Sensitivitas Antibiotik
a.
Difusi
Pada metode Difusi, media yang dipakai
adalah agar MuellerHinton.Ada beberapa cara pada metode difusi ini, yaitu :
1) Cara Kirby Bauer
Suspensi bakteri ditambah aquades
steril hingga kekeruhan tertentusesuai dengan standart konsentrasi kuman 108
CFU per ml, suspensikuman diratakan pada permukaan media agar dengan kapas lidi
sterilkemudian diletakkan kertas samir (disk) yang mengandung antibiotikadiatasnya,
diinkubasi 37º C selama 19-24 jam. Hasil dinyatakandengan zone radical yaitu
suatu daerah di sekitar disk di mana samasekali tidak ditemukan adanya
pertumbuhan bakteri. Potensi antibiotic diukur dengan mengukur diameter dari
zona radikal.Zone irradicaladalah suatu daerah di sekitar disk yang
menunjukkan pertumbuhanbakteri dihambat oleh antibiotika tersebut, tapi tidak
dimatikan. Di siniakan terlihat adanya pertumbuhan yang kurang subur atau lebih
jarang,dibanding dengan daerah di luar pengaruh antibiotika tersebut(Anonim,
2004).
2) Cara Sumuran
Pada
prinsipnya sama dengan cara Kirby Bauer, hanya saja setelahsuspensi diratakan
pada media agar kemudian pada agar tersebutdibuat sumuran dengan garis tengah
tertentu menurut kebutuhan.
Dalam
sumuran, lalu diteteskan larutan antibiotika yang digunakan.Diinkubasi pada 37˚
C selam 18-24 jam. Dibaca hasilnya, seperti padacara Kirby Bauer (Anonim,
2004).
3) Cara Pour Plate
Urutan sama dengan cara Kirby Bauer,
tetapi setelah dibuat suspensikuman dengan larutan BHI sampai konsentrasi
standar (108 CFU/ml),lalu dengan menggunakan ose khusus diambil
dimasukkan ke dalam 4ml agar base 1,5 % dengan suhu 50˚C (diambil dari
waterbath).Setelah itu suspensi kuman tersebut dibuat homogen, dan dituang
padamedia agar Mueller Hinton, ditunggu sampai beku dan kemudiandipasang disk
antibiotika.Diinkubasi selama 15-20 jam pada suhu37˚C.Kemudian dibaca dan
disesuaikan dengan standar masing-masingantibiotika (Anonim, 2004).
b. Dilusi Cair / Dilusi Padat
Pada
prinsipnya antibiotika diencerkan hingga diperoleh beberapakonsentrasi.Pada
dilusi cair, masing-masing konsentrasi obat ditambahsuspensi kuman dalam
media.Sedangkan pada dilusi padat tiapkonsentrasi obat dicampur dengan media
agar, lalu ditanami kuman(Anonim, 2004).
II.8. Resistensi Terhadap Antibiotik
Resistensi
sel mikroba adalah suatu sifat tidak terganggunya selmikroba oleh
antimikroba.Sifat ini dapat merupakan suatu mekanismealamiah untuk bertahan
hidup (Setiabudy dan Gan, 1995).
Resistensi
bakteri terhadap antibiotik membawakan masalahtersendiri yang dapat
menggagalkan terapi dengan antibiotik.Resistensi dapatmerupakan masalah
individual epidemiologik. Resistensi adalah ketahananmikroba terhadap
antibiotik tertentu yang dapat berupa resistensi alamiah,resistensi karena
adanya mutasi spontan (resistensi kromosomal) dan resistensikarena adanya
faktor R pada sitoplasma (resistensi ekstrakromosomal) atauresistensi karena
pemindahan gen yang resisten atau faktor R atau plasmid(resistensi silang).
a. Resistensi Alamiah
Beberapa
mikroba tidak peka terhadap antibiotik tertentu karenasifat mikroba secara
alamiah tidak dapat diganggu oleh antibiotik tersebut.
Hal
ini disebabkan oleh tidak adanya reseptor yang cocok untuk dindingsel mikroba
sehingga tidak dapat ditembus oleh antibiotik.Oleh sebab ituantibiotik tersebut
mempunyai kekosongan dalam spektrum kerjanya.
b. Resistensi Kromosomal
Resistensi
kromosomal terjadi karena mutasi spontan pada genkromosom dengan frekuensi 1 :
107 sampai 1 : 1012. Kromosom yang telahtermutasi ini dapat dipindahkan
sehingga terjadi populasi yang resisten.Pemindahan kromosom ini mengakibatkan
terjadi resistensi silang. Padamutasi spontan terjadi seleksi oleh antibiotik
di mana bibit yang peka akanmusnah dan bibit yang resisten akan tetap dan berkembang
biak(Wattimena dkk.,1991).
Resistensi
kromosomal dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu:
1) Resistensi kromosomal primer di mana
mutasi terjadi sebelumpengobatan dengan antibiotik dan selama pengobatan
terjadi seleksi bibit yang resisten.
2) Resistensi kromosomal sekunder di
mana mutasi terjadI selamakontak dengan antibiotik kemudian terjadi seleksi
bibit yangresisten.
Penyebab terjadi resistensi mikroba
adalah penggunaan antibiotic yang tidak tepat, misalnya penggunaan dengan dosis
yang tidak memadai, pemakaian yang tidak teratur atau tidak kontinu, demikian
juga waktu pengobatan yang tidak cukup lama.Maka untuk mencegah atau memperlambat
timbulnya resistensi mikroba, harus diperhatikan cara–cara penggunaan
antibiotik yang tepat (Wattimena dkk., 1991).
Dalam resistensi ekstrakromosomal,
yang berperan adalah faktor R yang terdapat diluar kromosom yaitu didalam
sitoplasma.Faktor R ini diketahui membawakan resistensi bakteri terhadap
berbagai antibiotik. Faktor R dapat dipindahkan dari bakteri yang satu ke
bakteri yang lain sehingga terjadi resistensi silang. Dengan cara ini suatu
bakteri dapat memperoleh sekaligus gen yang resisten terhadap enam sampai tujuh
antibiotik.
Pemindahan faktor R umumnya terjadi
secara konjugasi, sedangkan pemindahan plasmid diantara berbagai staphylococcus
terjadi secara transduksi (Wattimena dkk., 1991).Staphylococcus sensitif
terhadap beberapa antimikroba.
Resistensinya dikelompokkan dalam
bermacam-macam golongan :
a) Biasanya menghasilkan enzim beta
laktamase, yang berada dibawahkontrol plasmid, dan membuat organisme resisten
terhadap beberapapenisilin (penisilin G, ampisilin, tikarsilin, piperasilin,
dan obat-obat yangsama). Plasmid ditransmisikan dengan transduksi dan kadang
juga dengankonjugasi.
b) Resisten terhadap nafsilin (dan
terhadap metisilin dan oxacillin) yangtidak tergantung pada produksi beta
laktamase. Mekanisme resistensinafsilin berkaitan dengan kekurangan PBP (Penicillin
Binding Protein)tertentu dalam mikroorganisme.
c) Akibat sifat toleran berdampak bahwa
staphylococcus dihambat olehobat tetapi tidak dibunuh oleh obat tersebut,
misalnya pada perbedaanyang besar antara KHM (Kadar Hambat Minimal) dan KBM (
KadarBunuh Minimal) dari obat antimikroba. Toleransi suatu saat
dapatdihubungkan dengan kurangnya aktivasi enzim autolitik dalam dinding sel.
d) Plasmid juga dapat membawa gen untuk
resistensi terhadaptetrasiklin, eritromisin, aminoglikosida dan obat-obat
lainnya. Hanyapada beberapa galur staphylococcus, hampir semua masih peka
terhadapvankomisin (Jawetz et al., 1996).
II.9.
Media
Media adalah kumpulan zat-zat
organik yang digunakan untukmenumbuhkan bakteri dengan syarat-syarat tertentu,
oleh karena itu mediapembiakan harus mengandung cukup nutrien untuk pertumbuhan
bakteri(Tambayong, 2000). Syarat-syarat media yang digunakan untukmendapatkan
suatu lingkungan yang cocok bagi pertumbuhan bakteri adalah
a. Susunan Makanan
Media yang digunakan untuk
pertumbuhan harus mempunyai :
1) Air, digunakan untuk pertumbuhan bakteri,
menjaga kelembaban, dan untuk pertukaran zat (metabolisme).
2) Sumber karbon, bakteri dapat
menggunakan senyawa karbon sederhana seperti CO2 dan CH4 atau senyawa karbon
yang komplek.
3) Sumber nitrogen, dapat digunakan
unsur nitrogen sendiri atau senyawa nitrogen sederhana lainnya seperti NO2,
NO3,NH3.
4) Mineral, dibutuhkan dalam jumlah
agak besar dan terutama digunakan untuk menjaga agar tetap dalam keadaan
isotonis serta agar dapat menjaga pH yang optimal.
5) Vitamin, dibutuhkan oleh beberapa
bakteri tertentu.
6) Gas, bakteri membutuhkan gas tertentu
dalam kehidupannya, baik CO2 ataupun O2.
b. Tekanan Osmose
Sifat bakteri hampir sama dengan
sifat sel yang lain terhadap tekananosmose, sehingga bakteri untuk
pertumbuhannya membutuhkan media yangisotonis. Bila media tersebut hipotonis
maka media tersebut akan mengalamiplasmoptysis, sedangkan bila media
tersebut hipertonis maka akan terjadiplasmolysis.
c. Derajat Keasaman (pH)
Umumnya bakteri membutuhkan pH
netral.Namun, ada bakteri tertentuyang membutuhkan pH yang sangat alkalis
(vibrio), yang membutuhkan Ph sekitar 8-10 untuk pertumbuhan optimalnya.
d. Temperatur
Untuk mendapatkan pertumbuhan yang
optimal, bakteri membutuhkansuhu tertentu.Umumnya untuk bakteri yang patogen
membutuhkantemperatur sekitar 37˚C, sesuai dengan temperatur tubuh.Namun ada
bakteripatogen yang membutuhkan sekitar 42˚C seperti Camphylobacter.
e. Sterilitas
Sterilitas media merupakan syarat
yang sangat penting.Untukmendapatkan media yang steril maka setiap tindakan
(pengambilan media,penuangan media, dan lain-lain) serta alat-alat yang
digunakan harus steril dandikerjakan secara aseptik (Anonim, 2004).
II.10.
Sterilisasi dan Desinfektan
Sterilisasi diidentifikasikan
tindakan untuk membebaskan alat danmedia dari mikroba hampir semua tindakan
yang dilakukan dalam diagnosismikrobiologis.Sterilisasi diutamakan baik
alat-alat yang digunakan maupunmedianya.Suatu alat atau bahan dikatakan steril
apabila alat atau bahantersebut bebas dari mikroba baik dalam bentuk vegetatif
maupun spora(Suriawiria, 1986).
Sterilisasi secara fisik adalah
sterilisasi menggunakan faktor-faktorfisika misalnya temperatur tinggi,
penyinaran, uap panas. Sterilisasi dapatdibagi menjadi:
a.
Sterlilisasi
dengan pemanasan dapat dilakukan melalui :
1) Pemanasan langsung (incinerator)
Sterilisasi cara ini terutama
digunakan untuk mensterilkan alat-alatyang terbuat dari bahan logam (ose,
pinset), platina, nikrom danalat-alat yang terbuat dari gelas (ujung pipet,
bibir tabung, muluterlenmeyer pada penuangan media).
2) Pemanasan kering dengan udara panas
Sterilisasi ini dilakukan dengan
alat oven terutama untuksterilisasi alat-alat gelas dan juga untuk bahan-bahan
minyak danpowder seperti talk.Diatur dengan suhu berkisar antara 160˚– 170˚Cselama
90 – 120 menit.
3) Pemanasan basah langsung
Sterilisasi ini dilakukan dengan
menggunakan alat sterilisasirebus atau panci diisi air secukupnya.Alat-alat
yang disterilkanmisalnya gunting, pinset, jarum, skapel. Cara pemanasan basah
adalahmencuci alat-alat yang akan disterilkan kemudian dimasukkan
dalamsterilisator dan dipanasi sampai mendidih.
4) Pemanasan basah tidak langsung
(dengan uap air panas)
Sterilisasi dengan metode ini
dipengaruhi oleh adanya tekanan,dibagi menjadi :
·
Pemanasan
dengan uap air panas tanpa tekanan
Sterilisasi ini digunakan untuk
mensterilkan media yang akan rusakbila disterilkan dengan uap air panas
bertekanan (menggunakanautoclave). Sterilisasi ini dikerjakan dengan
pemanasan 100˚C selama 60 menit.Pada cara sterilisasi ini spora
tidak mati.
·
Pemanasan
dengan uap air bertekanan (autoclave)
Digunakan untuk sterilisasi media
yang tahan terhadap pemanasantinggi.Sterilisasi dikerjakan dengan autoclave pada
suhu 120˚Cselama 10-20 menit.
Sterilisasi basah lebih cepat bila
dibandingkan dengan sterilisasi keringkarena pada sterilisasi basah terjadi
proses koagulasi protein. Sedangkanpada sterilisasi kering terjadi oksidasi
protein (Anonim, 2004).
b.
Sterilisasi
kimia
Desinfektan
adalah bahan kimia yang dapat membunuh selvegetatif mikroba pada obyek yang
tidak hidup karena dapat merusakjaringan.Prosesnya disebut
desinfeksi.Desinfektan adalah destruksimikroorganisme vegetatif tetapi tidak
sporanya.Infeksi dapat terjadiapabila terdapat mikroorganisme dalam jumlah
besar.Tujuan desinfeksiadalah menurunkan jumlah mikroorganisme.Membunuh
semuamikroorganisme merupakan hal yang sulit dan mahal sehingga
biasanyadilakukan dengan berusaha menghancurkan sebagian besar darimikroorganisme.
DAFTAR PUSTAKA
Entjang.
2001. Mikrobiologi dan Parasitologi . PT Citra Aditya Bakti : Bandung.
Hart dan
Shears, 2004.Mikrobiologi
Farmasi Terapan.Fakultas MIPA, Jurusan Farmasi, Universitas Hasanuddin :
Makassar.
Jawetz et
al., 2001.Bakteriuria
Asimtomatik pada Anak Sekolah Dasar Usia 9-12 Tahun. Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara: 1-17
Kuswandi,
2001. Analisis Mikrobiologi
Farmasi. Fakultas MIPA, Jurusan Farmasi, Uninersitas Hasanuddin : Makassar.
Hart dan Shears, 2004.. Antibiotik Alami untuk Mengatasi Aneka Penyakit. Agro Media Pustaka.
Jakarta.
Neal.
2006. At a Glance Farmakologi .EGC : Jakarta.
Nugraha, Aditya, 2013. Echericia coli. Universitas Udayana. Denpasar. (http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-877-1831746254-tesis%20aditya%20nugraha.pdf).
Diakses pada Minggu 17 Mei 2015, Pukul 05.42 WITA.
Shulman dkk., 1994. Obat-Obat Penting .Elex Media
Komputindo. Jakarta.
Utama,
2006.Konsep Dasar Farmakologi Panduan Untuk
Mahasiswa terjemahan oleh Huriawati Hartanto. Jakarta: EGC.

Komentar
Posting Komentar